Jakarta (Analisadaily)
Presiden SBY Sabtu (24/10) pagi berangkat ke Thailand mengikuti KTT ke-15 ASEAN. Turut mendampingi Presiden, 5 menteri di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II yang baru dilantik.
Pantauan detikcom di Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu (24/10), 5 menteri yang berangkat bersama SBY adalah Menteri Perdangan Mari Elka Pangestu, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Pertanian Suswono, dan Menbudpar Jero Wacik.
“Hari ini Pak SBY ke Thailand, akan mendarat langsung Hua Hin, Thailand,” kata juru bicara presiden Dino Pati Jalal.
Dino menambahkan, Presiden juga mengikuti sejumlah kegiatan. Antara lain KTT ASEAN+3 ke-12, KTT ASEAN dengan India ke-7, dan East Asia Summit ke-4. Setelah itu, akan juga dilakukan pertemuan bilateral dengan perdana menteri Jepang dan India.
Dalam rombongan, terlihat juga Kepala Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan. Padahal, ia belum dilantik secara resmi layaknya menteri lainnya pada 22 Oktober lalu.
“Beliau (Gita) banyak membantu Presiden, jadi ikut secara informal untuk memberi masukan pada Presiden,” kata Dino saat ditanya soal keikutsertaan Gita.
KTT ASEAN yang dibuka Kamis (22/10) lalu oleh PM Thailand Abhisit Vejjajiva, antara lain akan membahas masalah penanganan krisis ekonomi, terutama untuk mendorong UKM yang terbukti mampu bertahan dari dampak krisis.
Hal lain yang disepakati dalam KTT ASEAN adalah berdirinya Badan HAM ASEAN.
Juru bicara Presiden Dino Patti Djalal mengatakan, isu-isu yang dibahas dalam pertemuan itu antara lain soal usulan Singapura mengenai hubungan pembangunan infrastruktur antarnegara ASEAN, keamanan pangan dan energi, ekonomi global, krisis keuangan serta perubahan iklim dan manajemen bencana.
Keberangkatan Presiden Yudhoyono ke Thailand ini merupakan kunjungan ke luar negeri yang pertama dilakukan Yudhoyono setelah dilantik sebagai Presiden RI periode 2009-2014 pada Selasa (20/10) lalu.
ASEAN SEPAKATI BENTUK DANA PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR
ASEAN menyepakati pembentukan dana pembangunan infrastruktur sebagai upaya untuk mewujudkan keterhubungan wilayah Asia Tenggara.
Kesepakatan tersebut tercantum dalam pernyataan bersama kepala negara dan pemerintahan ASEAN yang dihasilkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-15 ASEAN di Hua Hin, Thailand pada 23-25 Oktober 2009.
Pernyataan bersama para pemimpin 10 negara ASEAN dikeluarkan oleh sekretariat media KTT ke-15 ASEAN di Hua Hin, Thailand, Sabtu, terdiri atas 57 butir dan berjudul “Meningkatkan keterhubungan, memberdayakan masyarakat”.
Pembentukan dana pembangunan infrastruktur ASEAN dimaksudkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur fisik dan moda transportasi di kawasan, serta pembangunan jaringan teknologi informatika.
Untuk kebutuhan pembangunan tersebut, ASEAN juga mempersilakan negara-negara rekannya di Asia Timur untuk bergabung dalam pembentukan dana pembangunan infrastruktur.
Yang sudah memberikan komitmen untuk bergabung adalah China yang bersedia menyalurkan dana pembangunan infrastruktur ASEAN-China senilai 10 miliar dolar AS, serta 20 miliar dolar AS dari Jepang untuk negara-negara berkembang di Asia, termasuk ASEAN.
Sumbangan dari dua negara tetangga ASEAN tersebut diharapkan dapat membantu percepatan keterhubungan di antara 10 negara Asia Tenggara dan juga di kawasan Asia Timur.
Para kepala negara dan pemerintahan ASEAN dalam pernyataan bersama mereka meminta kepada menteri keuangan masing-masing negara untuk mempercepat pembentukan dana pembangunan infrastruktur ASEAN serta mengatur sumbangan dana dari rekan dialog ASEAN di Asia Timur serta pihak lain yang juga ingin memberikan kontribusi.
Pembangunan infrastruktur di kawasan ASEAN adalah salah satu upaya untuk mewujudkan komunitas ASEAN pada 2015 yang diamanatkan oleh Piagam ASEAN yang telah ditandatangani oleh pemimpin negara ASEAN.
Keterhubungan ASEAN melalui infrastuktur dan moda transportasi yang lebih mendekatkan hubungan 10 negara Asia Tenggara itu diharapkan dapat menjadikan ASEAN sebagai organisasi penentu di wilayah Asia Pasifik dan Asia Timur.
Keterhubungan ASEAN itu juga diharapkan dapat menjamin kelancaran arus barang dan manusia sebagai kawasan perdagangan bebas yang ingin diwujudkan pada 2015.
PRESIDEN TEKANKAN JAGA PERTUMBUHAN EKONOMI RIIL DALAM ASEAN+3
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan puncak ke-12 pimpinan negara ASEAN+3 (Jepang, China dan Korea Selatan) menekankan pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi riil di masing-masing negara dalam kawasan tersebut.
Pertemuan puncak pimpinan negara ASEAN+3 di Hua Hin, Thailand, Sabtu, adalah kegiatan pertama yang diikuti oleh Presiden Yudhoyono setibanya di Thailand pada Sabtu pukul 11.25 waktu setempat.
Menurut Juru Bicara Kepresidenan, Dino Pati Djalal, selain membicarakan pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi riil di kawasan, Presiden Yudhoyono juga akan mengangkat masalah perundingan organisasi perdagangan dunia.
Selain itu, Presiden Yudhoyono yang direncanakan akan berbahasa Indonesia dalam pertemuan tersebut juga membahas multilateralisasi Chiang Mai Intiative senilai 120 miliar dolar AS yang telah disepakati oleh ASEAN+3.
“Memang perdebatan soal ini agak alot, tetapi yang jelas kita ingin mudah-mudahan awal Januari tahun depan sudah bisa dioperasionalisasi Chiang Mai Initiative itu,” ujar Dino.
Ia menjelaskan dalam pertemuan pemimpin negara ASEAN+3, Presiden Yudhoyono juga akan menyinggung masalah perubahan iklim dan penanganan bencana.
“Itu adalah isu-isu yang kemungkinan akan diangkat Presiden dalam forum ASEAN plus three,” katanya.
Dino menekankan pentingnya ASEAN+3 sebagai forum yang mengangkat identitas kawasan Asia Timur dalam kondisi global yang penuh tantangan. Ia mencontohkan timbulnya gagasan Chiang Mai Intiative merupakan salah satu upaya yang menunjukkan peran ASEAN+3 amat relevan dalam menghadapi krisis keuangan di tingkat global.
“Kalau kita lihat sekarang perekonomian dunia, Asia menjadi motor pertumbuhan ekonomi. Jadi dengan kata lain kita lebih memerlukan identitas Asia Timur dan proses ini tidak hanya identitas tetapi harus diisi dengan banyak kerjasama,” tuturnya.
Namun, Dino juga memaparkan terlalu banyak organisasi sejenis yang tumpang tindih di kawasan tersebut, seperti ASEAN, East Asia (ASEAN+3, India, Australia, Selandia Baru), serta Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) yang menjangkau negara besar seperti Amerika Serikat.
“Pertanyaannya seperti apa ke depan arsitektur di kawasan ini. Ini adalah diskusi yang terus berkembang dan belum ada orang yang mempunyai jawabannya. Ini debat yang terus terbuka dan berlanjut dan kemungkinan akan dibahas juga dalam pertemuan ini,” jelasnya.
Selain menghadiri pertemuan puncak pemimpin negara ASEAN+3, Presiden Yudhoyono pada Sabtu juga menghadiri pertemuan puncak pemimpin negara ASEAN-India.
Salah satu topik yang akan dibahas dalam pertemuan tersebut adalah peningkatan target perdagangan antara kedua pihak menjadi 50 miliar dolar AS. Menurut Dino, target tersebut tidak akan sulit dicapai karena pada 2008 saja volume perdagangan antara ASEAN dan India telah mencapai 47 miliar dolar AS.
ASEAN AKAN BENTUK KONTAK GRUP ASEAN-G20
Untuk terus menyuarakan kepentingan negara berkembang di tingkat global dalam menghadapi dampak krisis keuangan, ASEAN akan membentuk kontak grup ASEAN-G20 guna mengkoordinasikan posisi ASEAN dalam forum G20.
Pembentukan kontak grup itu tertuang dalam pernyataan bersama kepala negara/pemerintahan ASEAN yang dikeluarkan sekretariat media, Sabtu, sebagai hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-15 ASEAN di Hua Hin, Thailand.
Kontak grup yang akan dibentuk itu beranggotakan Ketua ASEAN, Indonesia sebagai satu-satunya anggota G20 dari ASEAN, serta Sekretaris Jenderal ASEAN.
G20 yang beranggotakan Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Republik Rakyat Cina, Perancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Korea Selatan, Turki, Britania Raya, Amerika Serikat dan Uni Eropa, telah bertemu tiga kali sejak 2008 untuk mencari solusi mengatasi dampak krisis keuangan global seraya membahas regulasi agar krisis serupa tidak terulang lagi.
Dalam beberapa pertemuan, G20 juga mengundang ASEAN sebagai perwakilan organisasi wilayah.
Dalam pernyataan bersama sepuluh pemimpin negara ASEAN terdiri atas 57 butir berjudul “Meningkatkan keterhubungan, memberdayakan masyarakat” itu, juga disepakati agar Ketua dan Sekretaris Jenderal ASEAN dapat menghadiri setiap pertemuan G20 guna menyampaikan posisi dan pandangan ASEAN serta meningkatkan peran dalam tingkat global.
Menteri Keuangan sepuluh negara ASEAN juga diharapkan dapat terus berkoordinasi untuk merumuskan pandangan bersama negara-negara Asia Tenggara dalam mewujudkan stabilitas ekonomi dan finansial di kawasan dan pada tingkat global.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin negara ASEAN mendukung kelanjutan paket stimulus domestik untuk pemulihan yang berkelanjutan dari dampak krisis keuangan global.
Mereka juga mendukung reformasi dalam tubuh lembaga keuangan internasional agar suara dan kepentingan negara-negara berkembang dapat terwakilkan.
Negara-negara ASEAN juga sepakat untuk mereformasi serta memperketat peraturan di bidang finansial guna menghindari spekulasi serta kesalahan dalam sistem perbankan dan finansial.
Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva sebagai Ketua ASEAN dan tuan rumah KTT ke-15 ASEAN dalam pidato pembukaan telah menyerukan peran ASEAN dalam forum G20 sebagai perwakilan kepentingan dan suara negara berkembang.
Di tingkat kawasan, para pemimpin negara ASEAN juga menyepakati percepatan implementasi “Chiang Mai Initiave” senilai 120 miliar dolar AS yang digagas oleh ASEAN+3 (Jepang, China, Korea Selatan) sebagai dana cadangan guna mengatasi dampak krisis keuangan global.
Dana cadangan untuk stabilisasi mata uang di kawasan Asia Tenggara itu diharapkan sudah dapat diimplementasikan pada akhir 2009.
Bus Penumpang Terbalik, Seorang Tewas dan Tujuh Luka Berat
Bus penumpang CV Sepadan BK 7601 TH terbalik di Km 17-18 Jalan Siantar-Perdagangan, tepatnya di kawasan Nagori Bangun Kecamatan Gunung Malela Simalungun, menyebabkan seorang tewas dan 7 luka berat, Minggu(4/4) pagi.(Selengkapnya...)
KATEGORI BERITA
Selasa, 27 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar