Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut berharap pemerintah segera merevisi standar kadar kotoran maksimal di karet ekspor Indonesia untuk jenis SIR20 yang dewasa ini masih 0,20 persen guna meningkatkan daya saing.
"Sebenarnya revisi itu perlu untuk legalitas saja, karena pada praktiknya SIR 20 yang diekspor pengusaha sudah di bawah angka itu atau rata-rata 0,16 persen seperti standar di negara produsen lainnya yakni Malaysia, Thailand dan Vietnam," kata Ketua Gapkindo Sumut, Fauzi Hasballah, di Medan, Rabu (28/10).
Kalau tidak segera direvisi, kata dia, akan merugikan Indonesia, karena secara "hukum" kandungan kotoran karet ekspor Indonesia tetap saja dibawah yang diekspor negara pesaing lainnya.
"Permintaan untuk merevisi standar kadar kotoran itu sebelumnya secara resmi juga sudah disampaikan DPP Gapkindo,beberapa bulan lalu, tapi hingga dewasa ini belum juga ada terlihat langkah pemerintah ke arah itu sehingga Gapkindo Sumut kembali mendesak," katanya.
Sumut dinilai berkepetingan dalam revisi kadar kotoran karet itu mengingat Sumut merupakan salah satu produsen dan pengekspor karet di Indonesia, dimana sebagian besar produksinya dihasilkan dari tanaman rakyat.
Produksi karet Sumut itu sendiri diekspor ke berbagai negara mulai AS, Jepang termasuk ke Malaysia yang meski sebagai produsen juga membutuhkan bahan karet itu untuk kebutuhan bahan baku industri barang dari karetnya.
Dia mengakui, petani masih juga harus mendapat sosialisasi dan pengarahan agar produksi yang dijualnya tidak dicampur dengan berbagai bahan limbah yang dimaksudkan untuk menambah berat.
Petani harus lebih diberi masukan dimana tindakan yang mencampur getahnya dengan berbagai "limbah" justru merugikan dirinya sendiri, karena harga jualnya justru akan dikurangi pabrikan.
"Pemerintah diharapkan benar-benar memperhatikan karet karena permintaan produk itu dipastikan semakin meningkat dan Indonesia berpeluang besar untuk mengisi pasar luar negeri," katanya.
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut, Edy Irwansyah, menyebutkan, volume ekspor karet Sumut beberapa tahun terakhi ini turun dari sebelumnya yang berkisar 500 ribu ton per tahun.
Penurunan bukan karena permintaan yang melemah, tapi lebih cenderung akibat pasokan yang semakin berkurang.
Hingga September 2009 misalnya, ekspor karet Sumut anjlok 16,68 persen dibandingkan tahun lalu atau tinggal 315.582 ton. (Ant)

0 komentar:
Posting Komentar